We don't have a Ship!
Wednesday, August 24, 2011
Tags:
serikat hati,
serikat mimpi

setelah beberapa bulan mencoba untuk mengarungi lautan kembali, kapal yang Kami tumpangi akhirnya karam juga untuk yang kesekian kalinya. kapal Kami karam setelah terhempas badai dan ombak yang begitu dahsyat dari beberapa hari yang lalu, awalnya hanya kebocoran-kebocoran kecil yang disebabkan benturan dengan batu-batu karang, hingga akhirnya haluan kapal menabrak sebuah batu karang besar yang bayangannya sebenarnya sudah Kami lihat dari semalam. Kami mengira batu karang besar yang Kami lihat dari semalam itu adalah pulau impian yang selama ini memang Kami cari-cari untuk bisa berlabuh dan tinggal selamanya di sana, ternyata prediksi Kami salah, justru batu karang itulah yang mengantarkan Kami pada musibah ini. pada awalnya Kami yakin perjalanan kapal Kami kali ini bisa tiba dengan selamat di pulau impian Kami meski harus berjalan terseok-seok karena kebocoran-kebocoran kecil itu, tapi Kami terlalu gegabah dan meyepelekan kebocoran-kebocoran kecil itu hingga benturan yang terlampau keras dengan batu karang menghancurkan dan menenggelamkan Kami beserta seluruh impian-impian Kami akan pulau yang indah itu, meski Kami beserta sebagian awak kapal selamat, pulau yang Kami harapkan bisa menjadi tempat yang layak untuk meneruskan hidup Kami mungkin hanya tersisa angan saja.
Kami mencoba menenangkan diri dan berpikir kembali sekaligus mengevaluasi musibah ini, setelah badai berlalu dan malam berganti siang, Kami baru menyadari bahwa ternyata selama beberapa hari ini kapal Kami hanya berputar-putar saja di daerah ini, daerah yang sangat asing bagi Kami di tengah lautan yang begitu luasnya, memang Kami pernah mencoba untuk keluar dari daerah ini, tapi karena kurangnya pengalaman dan butanya Kami akan sistem navigasi memuat Kami hanya berputar-putar saja tanpa arah yang jelas. selain itu, kabut yang teramat tebal juga menghalangi pandangan Kami sehingga sulit untuk bisa sekedar melihat sekitar, Kami hanya mampu saling melihat diri Kami sendiri di atas kapal tanpa tahu kapan badai itu akan datang, saking kurangnya pengalaman Kami dan juga rasa percaya diri yang terlalu besar akan kekuatan kapal Kami ini, Kami lupa bahwa kebocoran-kebocoran kecil yang terlampau banyak bisa menenggelamkan kapal yang dari luar nampak begitu besar dan kokoh ini.
ada sedikit malu di hati Kami, karena kebanyakan orang-orang di negeri asal Kami mungkin telah mengira Kami sudah berlayar sangat jauh dan menemukan pulau impian yang selama ini menjadi tujuan pelayaran Kami, rasa malu juga menghinggapi benak Kami karena sebagian orang-orang di negeri Kami juga ada yang menyangsikan kemampuan Kami dalam mengarungi samudra dan menemukan pulau impian itu, orang-orang yang mungkin akan tertawa sedemikian kencangnya jika mengetahui bahwa saat ini Kami telah gagal menemukan pulau itu.
masih terselip sedikit penyesalan di benak Kami, seakan meneguhkanKu bahwa memang sekuat apapun kapal Kami ini, kapal ini juga bisa karam hanya karena berawal dari kebocoran-kebocoran kecil saja, kebocoran kecil yang tak segera juga Kami tambal dan perbaiki segera. padahal dari awal keberangkatan pelayaran Kami, hal terbesar yang Kami takutkan justru adalah badai dan ombak, hingga Kami lupa bahwa lautan yang begitu luas ini takkan bisa Kami kuasai tanpa kewaspadaan terhadap hal-hal kecil yang seringkali dianggap sepele seperti ini, saking percaya dirinya Kami hingga Kami berjalan sedemikian sombong di atas lautan ini, mungkin juga lautan marah atas kesombongan Kami hingga berusaha menenggelamkan kapal ini dari kemarin-kemarin. alam mungkin selalu benar, Kami-Kami yang yang bodoh ini yang mungkin terlalu lupa pada alam dan menganggap hal-hal kecil yang sepele takkan mampu menggagalkan pelayaran Kami.
beruntung alam masih memberi kesempatan pada sebagian dari Kami untuk tetap melanjutkan hidup, tapi trauma yang begitu dalam membuat Kami memutuskan untuk mengakhiri pelayaran kapal ini, siang ini. musibah besar itu membuat Kami sadar bahwa kapal yang telah karam itu tidak cocok untuk Kami tumpangi lagi. sebagian awak kapal berhasil selamat karena berpegang pada kayu-kayu bekas puing-puing kapal, tapi banyak awak kapal yang lain yang hilang dalam musibah ini. Aku sendiri berhasil selamat dan berenang mencari awak kapal lain yang masih tersisa, setelah mengadakan rapat kecil, Aku sebagai kapten dan dengan persetujuan awak kapal yang masih tersisa memutuskan pelayaran ini secara resmi ditutup. Kami berpisah dengan baik-baik karena memang tak mungkin Kami berenang bersama lagi setelah kejadian semalam. Kami berenang berpisah dan melanjutkan hidup Kami masing-masing, mencari pulau terdekat untuk bisa sekedar beristirahat dan membangun kapal baru dengan awak kapal yang mungkin juga baru.
ah, terkadang Aku tersenyum dan terkadang sembari menangis jika mengingat kembali kapal Kami yang telah karam itu, ada banyak kisah di sana yang membuatKu serasa menjadi manusia yang sebenarnya dengan berbagai lika-liku dan warna-warninya, ada banyak impian indah yang Kami bangun bersama di atas kapal itu, ada banyak pelajaran tentang hidup yang Kami dapatkan selama pelayaran di atas kapal itu. tapi Kami sadar bahwa musibah seperti ini adalah hal yang wajar bagi seorang pelaut dalam mengarungi hidup layaknya samudra, dengan musibah seperti ini Kami berharap bisa mendapat pelajaran yang begitu berharga dari kegagalan Kami ini. kapal yang telah karam itu biarlah tetap abadi di dasar lautan, sebagai kenangan yang takkan Kami lupakan dan mungkin akan Kami ceritakan pada anak cucu Kami masing-masing kelak, sebagai kenangan yang mengingatkan Kami akan impian-impian indah yang pernah Kami bangun bersama dengan senyuman dan air mata, di bawah panasnya matahari dan tetes-tetes air hujan.
Aku berharap suatu saat nanti bisa membangun kapalKu sendiri dan memulai pelayaranKu sendiri, berjuang kembali meneruskan hidupKu dan mencoba untuk mencari lagi pulau impian itu, Aku juga berharap suatu saat nanti Kami bisa bertemu kembali di lautan dengan kapal Kami masing-masing, bersapa dengan terompet dan melambaikan tangan tanda persahabatan, atau bahkan mungkin mengadakan jamuan makan malam bersama di atas salah satu dari kapal Kami kelak, tentunya dengan awak kapal Kami masing-masing.
selamat berpisah kapalKu, terima kasih atas tumpangan dan perlindungan yang selama ini kau berikan untuk Kami, semoga kau benar-benar tetap abadi di dasar lautan sebagai kisah indah yang takkan mungkin Kami lupakan...







0 komentar:
Post a Comment